Muhammadiyah-NU, Dua Sayap Garuda yang Menguatkan Indonesia
Dikotomi organisasi modern dan tradisional semakin tidak relevan.
JAKARTA | SatuJatim – Dalam berbagai buku penelitian dan kajian, Muhammadiyah kerap disebut sebagai representasi Islam modernis. Sementara Nahdlatul Ulama merepresentasikan kelompok Islam tradisionalis. Namun seiring berjalannya waktu dikotomi ini semakin tidak relevan.
Sekolah Islam modern yang dipelopori Muhammadiyah sama sekali tidak meninggalkan tradisi yang kuat. Pun sebaliknya pesantren-pesantren tradisional yang lekat dengan NU kini merambah berbagai ilmu modern.
Fenomena ini mengakibatkan terjadinya konvergensi pemahaman keislaman di Indonesia yang telah melahirkan generasi muslim baru dengan visi terbuka namun tetap menjaga tradisi. Generasi ini menjadi kekuatan unik Islam Indonesia yang tidak dimiliki negara lain.
Demikian disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, dalam tausiyahnya di Pesantren Cendekia Amanah, Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/3/2025).Menurut Mu’ti, hubungan harmonis antara Muhammadiyah dan NU merupakan kunci kekuatan umat Islam Indonesia.
Kedekatannya dengan Kiai Dr. Cholil Nafis, seorang tokoh NU telah membuktikan kedua organisasi ini bukanlah entitas yang berseberangan, melainkan dua sayap yang mengangkat Islam di Indonesia.
“Kami sering tampil bersama di berbagai acara, tanpa skenario, tanpa perlu diarahkan, sudah saling mengisi. Kalau semua umat seperti Kiai Cholil dan mungkin juga seperti saya, Indonesia akan bebas dari persoalan khilafiyah dan furukiyah,” ujar Mu’ti dalam rilis yang diterima, Senin (10/3/2025).
Mu’ti mengatakan, dewasa ini tidak tampak lagi kutub modernitas dan tradisional antara Muhammadiyah dan NU. ”Alhamdulillah, banyak warga NU yang menguasai kitab putih, dan banyak warga Muhammadiyah yang memahami kitab kuning. Perbedaannya kini lebih pada afiliasi organisasi, sementara pandangan keagamaannya semakin dekat,” jelasnya.
Fenomena ini telah diprediksi dengan baik oleh almarhum Prof. Kuntowijoyo, sosiolog dan budayawan Indonesia dalam buku Muslim Tanpa Masjid. Buku tersebut menyebutkan adanya tiga konvergensi besar di Indonesia.
Pertama, konvergensi antara kelompok tradisional dan modernis, yang menghapus perbedaan tajam antara NU dan Muhammadiyah. Kedua, konvergensi antara santri dan abangan, yang semakin mencair. Ketiga, konvergensi politik, yang menjadikan partai Islam dan partai nasionalis kini memiliki basis pemilih yang lebih beragam.
Menurut Mu’ti, faktor utama yang mendorong konvergensi ini adalah pendidikan. Kebijakan pendidikan agama sejak era Presiden Soeharto, peran perguruan tinggi Islam seperti IAIN/UIN, serta interaksi santri dalam institusi pendidikan Muhammadiyah dan NU, membuka wawasan keislaman dan kebangsaan jauh lebih luas.
Sebagai contoh, Mu’ti mengungkapkan sekitar 70 persen mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Universitas Muhammadiyah Malang berlatar belakang NU.
”Ketika mereka belajar di Muhammadiyah, bisa jadi mereka semakin dekat dengan Muhammadiyah, atau justru semakin kuat identitas NU mereka. Yang jelas, keduanya saling menguatkan,” ujarnya.
Mu’ti juga bercerita bahwa kakek buyutnya memiliki pesantren. Kini pesantren itu dikelola sepupunya yang merupakan alumni madrasah sekolah Muhammadiyah dan ketua PCNU.
”Inilah bukti nyata bahwa Muhammadiyah dan NU bukanlah dua organisasi yang bersaing, tetapi seperti dua sayap Garuda. Burung Garuda bisa terbang tinggi karena dua sayap itu mengepak, dan dua sayap itu adalah Muhammadiyah dan NU,” ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Marah
0
Sad
0
Wow
0

