Mengeja Pandemi Hari Ini, Esok dan Masa Depan
Gelombang kedua dengan varian virus baru ini, sekali lagi membawa pesan “siap tidak siap mau atau tidak, virus ini akan menyerang siapa pun.”
Oleh : Dimas Novie Wibowo
Sudah tak terhitung lagi berapa ucapan dan doa kepada mereka yang telah gugur. Ponsel ini sudah layaknya iklan kematian pada koran. Grup-grup pesan dan berseliwerannya status kawan hampir tiap hari berbunyi sama. Inalillahi inalillahi inalillahi. Seolah kata-kata ini membentuk barisan rel kerta api yang entah di mana stasiun pemberhentiannya. Pesan dan kabar kematian ini kadang juga terselip pesan yang beragam “ Terus Patuhi Protokol Kesehatan, Di Rumah Saja, Jaga Imun dan Iman” namun tak jarang juga ada yang menayangkan pesan dengan rasa penuh kecewa bahkan bermuatan kabar hoax. “ Corona itu Konspirasi, Kita Telah Dicovidkan, Rumah Sakit Menyuntik Mati Pasien Covid, Tes PCR Adalah Settingan.” Pesan-pesan itu yang akhir-akhir ini mulai membuat kepala kebanyakan orang mengalami trauma, bahkan kemudian muncul gerakan “ Stop Berita Corona. ” Munculnya pesan kekecewaan dan kabar hoax tentunya tak datang tiba-tiba. Sebagian pengamat dan akademisi berpendapat, meningkatnya kabar hoax mengenai Virus Covid19 akibat dari akumulasi kebingungan masyarakat terhadap informasi mengenai virus tersebut.
Gelombang kedua dengan varian virus baru ini, sekali lagi membawa pesan “siap tidak siap mau atau tidak, virus ini akan menyerang siapa pun.” Kenyataannya manusia yang selalu mengklaim sebagai makhluk berakal budi harus takluk dihadap makhluk yang renik bernama Covid-19. Pandemi Covid-19 telah mengubah semuanya. Manusia sebagai makhluk sosial tak lagi berlaku. Manusia dengan manusia lain dipisahkan oleh jarak, tiap individu harus melindungi dirinya dengan masker dan kadang juga masih harus memakai topeng transparan. Semua ini dilakukan demi terhindar dari virus yang konon katanya masih berkarib dengan Virus Influenza. Untuk sementara waktu, kegiatan-kegiatan yang berpotensi menghadirkan orang banyak dan berkerumun dibatasi bahkan ditiadakan termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Sudah lebih dari setahun kegiatan belajar jarak jauh diterapkan, ada khalayak yang bilang “ enak ya kalau sekolah online, gurunya punya waktu luang,” ada pula yang bilang “ sampai kapan ? anak-anak kami tidak sekolah, cukup orang tuanya saja yang tak berpendidikan.” Tentu tak selama pendapat seperti itu benar adanya atau salah sepenuhnya. Proses Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) tentu menjadi hal baru yang mau tidak mau harus dijalankan di tengah pandemi, tentu tujuan utamanya adalah melindungi segenap peserta didik dan pendidik dari paparan virus yang sedang mewabah. Hal yang kemudian terjadi adalah tak semua lembaga pendidikan dan peserta didik mampu melaksanakan PJJ dengan sistem dalam jaringan (daring). Hambat-hambatan dalam proses PJJ daring lazimnya terjadi karena tidak meratanya akses jaringan internet dan tentunya tidak semua pendidik serta peserta didik memiliki kemampuan finansial untuk membeli gawai (Ponsel, Komputer atau Laptop). Hambatan lainnya bukan perkara muda membiasakan atau membudayakan pola pembelajaran yang sebelumnya bertatap muka antara peserta didik dan pendidik, sehingga terjadi dialog dan transfer pengetahuan secara langsung. Sedangkan saat PJJ daring semua harus tergantikan oleh layar digital, pendidik tidak bisa secara langsung mengetahui kondisi pesta didik saat PJJ daring. Namun tentunya hambatan-hambatan ini bukan sesuatu yang harus dihadapi dengan pasrah dan putus asa. Apresiasi setingginya kepada rekan-rekan seprofesi (Pendidik) terkait semangat berinovasinya dalam melawan hambatan-hambatan selama kegiatan belajar mengajar di masa pandemi , tentu tujuan kita semua tidak lebih tidak kurang ingin memastikan setiap anak didik kita mendapat hak pendidikannya.
Memang dalam beberapa tahun terakhir ini, sering kita dengar dan baca istilah Revolusi 4.0. Kondisi hari ini seolah terjadi secara kebetulan dan bersamaan. Adanya Revolusi 4.0 (Revolusi Teknologi) diikuti dengan munculnya pandemi Virus Covid-19. Kemudaan dalam menjalakan praktik keseharian dengan adanya kemajuan teknologi setidaknya telah meringankan beban kerja manusia. Maka tak heran kemudian muncul inovasi-inovasi baru yang selama ini tak pernah terpikirkan. Saya tak membayangkan jika pandemi ini terjadi pada 20 tahun yang lalu, ketika teknologi telekomunikasi belum semaju sekarang. Ketika aplikasi tatap maya belum ditemukan, ketika aplikasi belanja online belum ada dan aktivitas masyarakat dibatasi, tentu semua harus dikerjakan secara manual.
Kemajuan teknologi komunikasi wabil khusus jaringan internet telah menjadi penanda era baru kehidupan manusia. Arus deras informasi di dunia internet ternyata tak selamanya membawa dampak positif. Dewasa ini kita tidak hanya di sibukkan dengan Wabah Covid-19 namun jaga ada wabah lain yang tak kalah berbahaya, wabah itu sulit dilawan bahkan belum ada vaksinnya sampai hari ini, wabah itu bernama berita bohong atau hoax. Virus hoax ternyata juga tak pernah memilih inangnya, siapa saja dapat terpapar hoax, tak kurang dari kalangan akademisi, pejabat publik, tokoh agama, pelajar hingga emak-emak pernah dibuat geger mengenai hoax. Ambillah contoh bagaimana dunia maya yang kemudian juga berlanjut ke pemberitaan di televisi digegerkan dengan adanya penangkapan hewan babi yang tertuduh sebagai Babi Ngepet. Lemahnya pengalaman literasi dianggap sebagai biang kerok suburnya hoax di masyarakat.
Sudah jatuh tertimpa tangga mungkin begitu kata pepatah untuk menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Bantuan sosial dikorupsi, Insentif gaji tenaga kesehatan disunat, pemalsuan hasil Tes PCR dan sertifikat vaksin, istilah-istilah yang terus diganti, ujaran kebencian hingga kabar viral akhir pekan ini, bagaimana bisa data Presiden Jokowi yang terdapat di aplikasi PeduliLindungi tersebar luas di media masa alias bocor.
Geliat vaksinasi terus dikebut, bahkan partai politik ikut serta dalam kegiatan vaksin di pelbagai daerah. Semoga apa yang diusahakan oleh partai-partai politik dalam menyelenggarakan vaksin diniati sebagai kerja-kerja kemanusiaan. Di lain sisi Virus Covid-19 terus berlibat ganda dalam bentuk varian-varian baru.
Sekali lagi, manusia telah memilih caranya untuk dapat memenangkan pertarungan melawan wabah ini. Apakah kita akan menang ?
Semoga Kita Selamat !!!!
Biodata Penulis : Dimas Novie Wibowo
adalah Guru di SDN Kepuharum Kabupaten Mojokerto.
What's Your Reaction?
Like
1
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Marah
0
Sad
0
Wow
0

