Bahaya Ujaran Kebencian Pada Anak
Ada banyak kasus terkait ujaran kebencian berkaitan dengan berita bohong atau hoax.
Oleh : Dimas Novie Wibowo
Akhir-akhir ini mungkin di pemberitaan media masa baik cetak atau online dan juga di dunia sosial media sering kita baca dan dengar terkait ujaran kebencian. Ada banyak kasus terkait ujaran kebencian berkaitan dengan berita bohong atau hoax. Seolah jamur yang tumbuh di musim penghujan, ujaran kebencian muncul begitu saja di tengah masyarakat Indonesia. Sapa yang sangka, masyarakat Indonesia yang terkenal dengan keramahannya tiba-tiba menjadi galak dan penuh kebencian terhadap mereka yang memiliki perbedaan pendapat di dunia media sosial. Fenomena ujaran kebencian yang ada di masyarakat kita tidak bisa dilepaskan dengan konstelasi politik akhir-akhir ini, baik pada saat Pilkada 2018 dan pemilu serentak 2019 dan saat musibah pandemi Covid-19 menerjang dunia dan Indonesia, ujaran kebencian pun tak luput menjadi virus yang mematikan.
Dalam penjelasan ahli, pada dasarnya ujaran kebencian berbeda dengan ujaran (speech) pada umumnya, walaupun di dalam ujaran tersebut mengandung kebencian, menyerang dan berkobar-kobar. Perbedaan ini terletak pada niat (intention) dari suatu ujaran yang memang dimaksudkan untuk menimbulkan dampak tertentu, baik secara langsung (aktual) maupun tidak langsung (berhenti pada niat). Menurut Susan Benesch, jika ujaran tersebut dapat menginspirasi orang lain untuk melakukan kekerasan, menyakiti orang atau kelompok lain, maka ujaran kebencian itu berhasil dilakukan (Anam dan Hafiz, 2015).
Bagaimana ujaran kebencian bisa terjadi. Pertama, ujaran kebencian bisa terjadi karena dalam pribadi seseorang ada prasangka negatif kepada kelompok tertentu, misalnya ada penilaian bahwa sebuah kelompok, agama, atau etnis tertentu tidak beradab, pelit, sangat ekslusif dan lain sebagainya. Oleh karena adanya prasangka tersebut, para netizen mendapati perasaan jijik terhadap kelompok lainnya, kondisi ini senantiasa mendorong mereka melontarkan ujaran kebencian.
Akhir-akhir ini ternyata ujaran kebencian tidak hanya dilakukan oleh orang dewasa namun sudah menjangkit anak-anak atau pelajar. Masih hangat dalam ingatan kita bagaimana viral cuplikan video anak-anak sekolah dasar dengan bangganya mendukung aksis terorisme ISSI, belum lagi ada praktek - praktek ujaran kebencian atau perundungan verbal yang berdampak pada kasus bunuh diri pada anak. Fakta-fakta tersebut bukanlah hal yang dianggap enteng bagi seorang pendidik (guru).
Tentunya kita sebagai pendidik sudah siap dengan bahaya Internet diyakini sebagai tempat yang paling mudah untuk menebar hoax dan kebencian. Sementara itu, pengguna internet kini sudah merambah berbagai kalangan. Termasuk anak-anak yang nggak bisa dilepaskan dari dunia maya. Jika tidak diawasi, anak sangat rentan menjadi korban bully, berita bohong, hingga ujaran yang menyesatkan. Bahkan bisa jadi, mereka akan terpengaruh dan ikut-ikutan menjadi pelakunya.upaya untuk melindungi anak-anak atau peserta didik kita dari bahaya ujaran kebencian. Apalagi generasi Alpha ( 2011-2015) merupakan generasi yang hidup dan sejak usai dini sudah bersentuhan dengan teknologi internet.
Lalu, bagaimana cara kita untuk mencegah anak sampaikan ujaran kebencian? Berikut 3 caranya yang bisa dilakukan pendidik.
1. Berbicara Toleransi.
Terus mendorong sikap dan juga tindakan peserta didik untuk memahami setiap perbedaan yang dimiliki oleh teman – temannya, perbedaan merupakan anugerah Tuhan agar manusia bisa saling belajar dan melengkapi.
2. Jelaskan Risiko dari bahaya ujaran kebencian dan kenapa harus dihindari.
Terangkan pada anak, bahwa orang-orang yang melakukan hal yang tidak baik, harus menanggung konsekuensi atau risikonya. Seperti orang-orang yang melakukan ujaran kebencian harus menanggung risikonya.
3. Ajakan bernalar kritis.
Tentu salah satu tujuan terlaksanakannya pendidikan adalah membangun nalar kritis, yang artinya membekali peserta didik untuk menggunakan segala daya pikirnya untuk mengetahui sebuah kebenaran. Dengan begitu peserta didik dapat memiliki kemampuan kritis dalam melihat fenomena di masyarakat.
Ketiga hal tersebut tentunya bukan cara yang final, namun perlu pendiskusian lebih masif terutama bagi pendidik untuk bersama dengan orang tua dan segenap elemen masyarakat untuk bergotong royong menjauhkan anak-anak Indonesia dari bahaya dan sikap ujaran kebencian.
Penulis Adalah : Dimas Novie Wibowo, Guru di SDN Kepuharum Kabupaten Mojokerto.
What's Your Reaction?
Like
0
Dislike
0
Love
0
Funny
0
Marah
0
Sad
0
Wow
0

